Photobucket Mengaku Nabi Isa? Yang Benar......????

Diantara usaha mereka dalam memadamkan cahaya Islam, muncul diantara mereka manusia-manusia pendusta yang mengaku nabi agar mereka mendapatkan jalan untuk mengotak-atik ayat-ayat dan hadits Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Para pelaku kebatilan dari kalangan orang-orang kafir, munafiq, dan ahli bid’ah senantiasa mencari jalan untuk memadamkan cahaya Islam. Namun Allah


berkehendak lain,






"Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang Telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai". (QS. At-Taubah: 32-33).



Diantara usaha mereka dalam memadamkan cahaya Islam, muncul diantara mereka manusia-manusia pendusta yang mengaku nabi agar mereka mendapatkan jalan untuk mengotak-atik ayat-ayat dan hadits Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dari pintu ini, si pendusta yang mengaku nabi ini akan menghapus ayat-ayat, mentakwilnya secara batil, menempatkannya sesuai selera mereka, walaupun bertentangan dengan syari’at Allah, dan akal sehat. Lihat saja, Ahmadiyah Al-Qodiyaniyyah mencomot firman Allah -Ta’ala- dalam suratAl-Ahzab: ayat 40. Mereka berceloteh bahwa kata (خاتم النبيين) , maknanya cincin para nabi, bukan penutup para nabi. Padahal menurut bahasa Arab, bahwa maknanya adalah penutup para nabi. Belum lagi jika menilik komentar para ulama’, dan sebelumnya lagi ayat itu ditafsirkan dengan hadits-hadits Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang menjelaskan bahwa tak ada nabi setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .



Karenanya, Ahlus Sunnah dari zaman Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sampai zaman kita telah sepakat bahwa tak ada lagi nabi setelah terutusnya Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-.



Pembaca yang budiman, kali ini kami akan membahas tafsir ayat 40 dari surat Al-Ahzab, karena para pendusta yang mengaku nabi terkadang menafsiri ayat tersebut dengan takwil yang batil, sehingga seakan makna ayat itu tidaklah menyelisihi apa yang mereka dakwakan. Padahal ayat itu senjata awal yang terhunus ke dada mereka. Nah, silakan ikuti pembahasan berikut dengan hati tenang, dan cermat agar kalian berbahagia dan tegar di atas aqidah yang haq:



Allah -Ta’ala- berfirman,



"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS.Al-Ahzab : 40)



Al-Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghowiy (wafat 516 H) -rahimahullah- berkata ketika menafsirkan ayat ini, "Ibnu Abbas berkata, "Allah menginginkan bahwa andai Aku (Allah) tidak menutup para nabi dengan Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka Aku akan berikan kepadanya seorang putra yang akan jadi nabi setelahnya. Diriwayatkan dari Atho’ dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Allah -Ta’ala- tatkala telah memutuskan bahwa tak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka Allah tak berikan kepada beliau seorang putra yang akan jadi pria dewasa. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". [Lihat Ma’alimAt-Tanzil (1/357)]



Al-Imam Ath-Thobariy (wft 310 H) -rahimahullah- berkata menafsiri ayat ini, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi yang menutup pintu kenabian; Beliau (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-) menutup pintu kenabian, maka tak akan dibuka lagi bagi seorang pun sampai tegaknya hari kiamat".[Lihat Jami’ Al-Bayan (1/305)]



Al-Imam Abu Sa’id Abdullah bin Umar Al-Baidhowiy (wafat 685 H)-rahimahullah- berkata, " "dan penutup nabi-nabi", yaitu yang akhir diantara mereka, yang menutup para nabi, atau mereka ditutup dengannya menurut bacaan Ashim dengan mem-fathah huruf kho’nya. Hal ini tidaklah masalah dengan turunnya Isa setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, karena jika Isa turun, maka ia akan berada di atas agama Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Selain itu, yang dimaksudkan penutup para nabi, bahwa Nabi Muhmmad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling terakhir diangkat menjadi nabi". [Lihat Anwar At-Tanzil (1/377)]



Apa yang dinyatakan oleh Al-Baidhowiy -rahimahullah- adalah betul sebab Isa akan turun, bukan karena ia diberi wahyu dan risalah baru, bahkan ia akan turun untuk menerapkan syari’at Islam yang pernah dibawa oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, namun ditinggalkan oleh manusia, bahkan dirusak !!!



Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,



"Tak ada seorang nabi antara aku dengan Isa -alaihis salam-; sesungguhnya ia akan turun. Jika kalian melihatnya, maka kenalilah; ia adalah seorang yang berperawakan sedang, (warna kulitnya) condong kepada merah dan putih antara dua warna kuning; seakan-akan kepalanya meneteskan (air), sekalipun tak basah. Isa akan memerangi manusia berdasarkan Islam; ia akan mematahkan salib-salib, membunuh babi-babi. Allah akan membinasakan semua agama di zamannya, kecuali Islam; Dia akan membunuh Al-Masih Dajjal. Kemudian ia akan tinggal di bumi selama 40 tahun, lalu ia wafat. Maka kaum muslimin pun melakukan sholat jenazah atasnya". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya(4324), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (6775 & 6782), dan Ahmad dalam Al-Musnad (2/402). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2182)]



Muhaddits Negeri India, Syamsul Haq Al-Azhim Abadi-rahimahullah- berkata, "Jika demikian halnya (yakni tak adanya Nabi setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-), maka tak boleh disangka bahwa Isa –alaihis salam- akan turun sebagai nabi dengan membawa syari’at baru, selain syari’at Muhammad, Nabi kita. Bahkan jika ia turun, maka Isa pada hari itu akan menjadi pengikut Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tatkala ia bersabda kepada Umar,



"Andaikan Musa hidup, maka tak boleh baginya, kecuali ia harus mengikutiku". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (14672), dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (176). Lihat Takhrij Al-Misykah (177)]



Jadi, Isa turun hanyalah untuk menetapkan syari’at Islam ini, dan memperbaharuinya, sebab syari’at Islam adalah syari’at yang paling akhir". [Lihat Aunul Ma’bud (11/305)]



Kembali kepada ayat di atas, Al-Imam Abus Su’ud Muhammad Al-Imadiy (wafat 982 H) -rahimahullah- berkata, "(penutup nabi-nabi), maksudnya: Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- nabi paling akhir diantara para nabi, yang mereka ditutup dengan beliau. Hal ini tidaklah masalah dengan turunnya Isa setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam, karena jika Isa turun, maka ia akan berada di atas agama Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Karena maknanya "ia penutup nabi-nabi" bahwa tak ada seorangpun yang akan diangkat jadi nabi setelah Nabi Muhmmad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Sedang Isa termasuk orang yang diangkat jadi nabi sebelum Nabi Muhammad. Ketika Isa turun, ia turun hanyalah untuk menerapkan syari’at Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-; sholat menghadap kiblatnya, seakan-akan Isa adalah bagian dari ummat Nabi Muhammmad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-". [Lihat Irsyad Al-Aql As-Salim (7/106)]



Abul Barokat Abdullah bin Ahmad An-Nasafiy (wafat 701 H)-rahimahullah- berkata ketika menafsirkan ayat di atas, " "Wa khotaman Nabiyyin" (penutup nabi-nabi) –dengan terfathah huruf kho’nya- menurut bacaan Ashim, bermakna penutup, maksudnya yang paling akhir diantara mereka, yaitu tidak diangkat lagi setelahnya seorang menjadi nabi. Sedang Isa termasuk orang yang diangkat jadi nabi sebelum Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Tatkala ia turun untuk menerapkan syari’at Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka ia seakan sebagian dari ummat Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-". [Lihat Tafsir An-Nasafiy (3/308)]



Abul Faroj Abdur Rahman Ibnul Jauziy Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata, "Barang siapa yang membaca kata "khotam" dengan meng-kasroh huruf ta’nya, maka maknanya adalah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah menutup para Nabi. Barang siapa yang mem-fathah-nya, maka maknanya adalah (Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-) nabi yang paling terakhir. Ibnu Abbas berkata, "Allah menginginkan bahwa andai Aku (Allah) menutup para nabi dengan Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka Aku akan berikan kepada Muhammad seorang anak lelaki yang akan menjadi nabi setelahnya".". [Lihat Zaadul Masir (6/393)]



Al-Imam Abul Hasan Ali bin Ahmad Al-Wahidiy-rahimahullah- berkata dalam Al-Wajiz fit Tafsir (1/868), " "tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi", yaitu tak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-".



Tafsir Al-Imam Al-Wahidiy ini tepat sekali, karena Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda,



"Dahulu Bani Isra’il dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang Nabi meninggal, maka ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tak ada lagi nabi setelahku; akan ada khalifah-khalifah, lalu mereka banyak". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3268), Muslim dalam Shohih-nya (1842), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (2871), Ahmad dalam Musnad-nya (7947), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (4555 & 6249), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro(16325), dan Ibnu Rohuyah dalam Musnad-nya (222)]



Ibnu Athiyyah-rahimahullah- berkata setelah menjelaskan makna Khotaman nabiyyin (Penutup nabi-nabi), "Lafazh-lafazh ini -menurut sekelompok ulama sejak dulu, dan belakangan- diwarisi secara umum dan sempurna, yang mengharuskan secara nash bahwa tak ada nabi setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-". [Lihat Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (14/173)]



Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad- Dimasyqiy-rahimahullah- berkata saat menafsirkan ayat di atas, "Ayat ini merupakan nash bahwa tak ada nabi setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Jika tak ada nabi setelahnya, maka tentunya lebih utama tak ada rasul setelahnya, karena jenjang kerasulan lebih khusus dibandingkan jenjang kenabian. Jadi setiap rasul adalah nabi, bukan sebaliknya".[Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (3/650)]






* Kesimpulan dan Ringkas Kata




Usai membaca komentar para ulama kita dalam menafsirkan (QS.Al-Ahzab :40) di atas, maka kita bisa menarik garis kesimpulan:






* Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah penutup para nabi dan rasul.


* Andai ada nabi setelah beliau, maka Allah akan berikan putra yang dewasa dan panjang umur, kelak akan mengemban kenabian. Namun kenyataannya beliau tak diberi putra, kecuali ia meninggal sebelum dewasa.


* Hadits Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah menjelaskan makna ayat itu bahwa tak ada nabi setelah Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .


* Jika pintu kenabian tertutup, maka otomatis pintu kerasulan tertutup, sebab tak ada seorang rasul, kecuali ia dari kalangan nabi.


* Nabi Isa ketika turun ke dunia untuk membunuh Dajjal, maka ia tidak lagi diangkat jadi seorang nabi yang membawa syari’at baru, tapi ia akan ikut Syari’at Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Karena Isa –alaihis salam- telah diangkat jadi nabi sebelum Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Dengan ini, Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling terakhir diangkat jadi nabi !!




Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 42 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Comments :

0 komentar to “Mengaku Nabi Isa? Yang Benar......????”

Poskan Komentar

 

Admin BKMS

Bismillah
Admin BKMS
Nama Jurusan
Abu Abdillah FKIP/PGSD S1/V
Umar FKIP/Fisika/V
Abu Musa FKIP/PAI/I
Sabran As-Salafi FKIP/PGSD S1/III

Islam Murni